Berkah bagi Mbah Surip karena lagunya laris manis dijual untuk layanan Ring Back Tone (RBT) di telepon seluler. Musisi lain yang lebih awal meramaikan musik Indonesia sebaiknya tidak iri dengan karakter lucu dan sederhana Mbah Surip yang laku keras di RBT."Jangan mengecilkan musik orang lain. Tidak boleh ngiri," kata pengamat musik Bens Leo, dalam perbincangan melalui telepon, Rabu, 15 Juli 2009.
Lagu berkarakter sederhana, mudah didengar, dan lucu menjadi dagangan utama di layanan RBT. Maka itu, layanan RBT ini jarang menampilkan lagu-lagu yang kompleks dan sulit dimengerti, seperti lagu-lagu asing.
Tipikal lagu Mbah Surip memang digemari di layanan RBT. Tapi memang belum tentu laku untuk penjualan CD dan kaset. Maka itu, band-band papan atas yang sudah lama eksis tidak perlu khawatir atas meroketnya Mbah Surip.
"Band-band yang sudah lama seperti Gigi, Dewa, dan Slank itu masih laku. Mudah-mudahan dengan sukses ini, karya-karya yang lebih inovatif dan berkualitas lahir dari orang-orang seperti Mbah Surip," ujar dia.
Selama ini, Mbah Surip sudah mengantongi miliaran rupiah dari keuntungan di RBT. Mbah Surip bergabung di beberapa komunitas seperti seniman Teguh Karya, Aquila, Bulungan, sampai komunitas seniman di Taman Ismail Marzuki.
Dengan gaya slebor dan tawa khasnya, Mbah Surip kemudian menapak dunia rekaman. Ia lalu merekam albumnya di cakram rekaman. Antara lain Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan Barang Baru (2004).
No comments:
Post a Comment